Apa dan Bagaimana Anak Berkebutuhan Khusus: Deteksi Dini Sensory Processing Disorder

abk
Deteksi dini anak berkebutuhan khusus dari orangtua adalah pintu gerbang keberhasilan intervensi atau terapi yang dilakukan (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu Belmont)

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) atau special need children merupakan istilah lain untuk menggantikan kata Anak Luar Biasa (ALB) yang menandakan adanya kelainan khusus. ABK mempunyai karakteristik yang berbeda antara satu dan lainnya. Anak berkebutuhan khusus (ABK) merupakan anak – anak yang tergolong cacat atau yang menyandang ketunaan. Dalam perkembangannya, saat ini konsep ketunaan berubah menjadi berkelainan atau luar biasa.

Mangunsong (2008) menyebutkan anak berkebutuhan khusus adalah anak yang membutuhkan pendidikan dan layanan khusus untuk mengoptimalkan fungsi kemausiaannya secara utuh akibat adanya perbedaan kondisi dengan kebanyakan anak lainnya. Perbedaan kondisi meliputi: ciri – ciri mental, kemampuan sensorik, fisik dan neuromaskular, perilaku sosial dan emosi, kemampuan komunikasi ataupun kombinasi dua atau lebih dri berbagai hal tersebut.

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 70/2009 Pasal 3 ayat 1, penggolongan PDBK dibagi menjadi:
– Tunanetra
– Tunarungu
– Tunawicara
– Tunagrahita
– Tunadaksa
– Tunalaras
– Berkesulitan Belajar
– Lamban Belajar
– Autis
– Memiliki Hambatan Motorik
– Menjadi korban penyalahgunaan narkoba, obat terlarang, dan adiktif lainnya
– Memiliki kelainan lainnya
– Tunaganda

Deteksi dini dan intervensi terhadap anak berkebutuhan khusus sebaiknya dilakukan dari sejak dini atau dibawah usia lima tahun.  Hal ini untuk mengoptimalkan perbaikan fungsi yang ada melalui pelatihan, intervensi medis, atau pun terapi lainnya.

Peran orang tua sangatlah penting dalam deteksi dini anak berkebutuhan khusus sebelum dibawa ke ahli seprti dokter, psikolog, dan neuropsikolog.  Kepekaan orang tua dibutuhkan untuk melihat tumbuh kembang anak apakah terjadi masalah berupa keterlambatan perkembangan atau tidak optimalnya fungsi tubuh buah hati dibandingkan anak normal lain seusianya.

Permasalahan deteksi dini yang mungkin dapat dilakukan oleh orang tua adalah bagaimana fungsi indera yang dari buah hati telah optimum atau tidak di bawah usia dua tahun.  Deteksi ini dapat dilakukan oleh orang tua terhadap delapan fungsi sistem sensory atau indra dan organ, meliputi

  1. Pendengaran (Auditory)
  2. Penglihatan (Vsual)
  3. Perasa (Gustatory)
  4. Penciuman (Olfactory)
  5. Sentuhan (Tactile)
  6. Kesimbangan posisi dan gerak tubuh (Vestibular)
  7. Sendi dan gerakan otot (Propioceptive)
  8. Kepekaan terhadap organ dalam tubuh (Interoception)

Anak berkebutuhan khusus mengalami masalah yang menetap dari kedelapan fungsi indra di atas.  Oleh karena itu deteksi permasalahan dalam sensory processing yang meliputi penerimaan stimulus oleh indera dari lingkungan, pemerosesan hasil penerimaan stimulus oleh indera di otak, dan bagaimana respon dari stimulus harus sesuai kontek adalah kunci deteksi dini anak berkebutuhan khusus.  Dengan kata lain anak berkebutuhan khusus mengalami masalah sensori atau sensory processing disorder (SPD).

Sensory Processing Disorder (SPD) adalah kondisi neurofisiologis di mana masukan sensorik atau inderawi baik dari lingkungan atau dalam tubuh menjadi kurang terdeteksi, dimodulasi atau diolah, ditafsirkan dan  atau direspons tidak sesuai dengan yang diharapkan (Miller, 2013 dikutip dari Kopp & Schier, 2016).

Secara spesifik dapat dijelaskan bahwa sensory processing dalam manusia melibatkan penerimaan dari stimulus fisik, transduksi dari stimulus ke dalam impuls syaraf, dan persepsi, serta pengalaman secara sadar dari indera.  Proses ini adalah dasar untuk belajar, mempersepsi, dan bertindak.  (Kandel, Schwartz, & Jessell, 2000; Shepherd, 1994 dikutip dari Ahn, Miller, Milberger, & McIntosh, 2004). Gangguan dapat terjadi pada beberapa atau keseluruhan dari sistem indrawi termasuk tactile, auditory, visual, gustatory, olfactory, proprioceptive, and vestibular  (Bundy & Murray, 2002; Kandel et al.; Reeves, 2001 dikutip dari Ahn, Miller, Milberger,&  McIntosh, 2004).

Ganguan sensori ini dapat berdampak negatif kepada perkembangan dan kemampuan fungsi dari perilaku, emosi, motorik, dan kognitif atau berpikir (Kandel et al.; Shepherd, 1994 dikutip dari Ahn, Miller, Milberger, & McIntosh, 2004).

Prevalensi SPD pada anak usia taman kanak-kanak cukup tinggi. Berdasarkan penelitian Ahn, Miller, Milberger, dan McIntosh (2004)  bahwa berdasarkan persepsi dari orang tua dengan anak usia taman kanak-kanak saat penerimaan siswa baru, anak yang mengalami SPD dapat mencapai 5,3%.  Disi lain, Kopp dan Schier (2016) menjelaskan  bahwa SPD dapat juga terjadi pada orang dewasa.  Prevalensi pada anak sekitar 5-16 %, 70-90% anak bahkan individu dewasa yang mengalami austism spectrum disorder (ASD) memliki gangguan dalam sensory processing, dan 40-60% anak dengan ADHD mengalami SPD. Gambaran ini menunjukkan angka yang cukup tinggi sehingga perlu diwasapadai oleh orang tua, guru TK, maupun PAUD.

 

Referensi

Ahn, R. R., Miller, L. J., Milberger, S., & McIntosh, D. N. (2004). Prevalence of parents’ perceptions of sensory processing disorders among kindergarten children. American Journal of Occupational Therapy, 58, 287–293.

Kopp, K., & Schier, T. (2016). Making Sense Out of Sensory Processing Disorder. Diakses 12 November 2017 dari http://depts.washington.edu/lend/pdfs/Making_Sense_Sensory_Processing_Disorder103114.pdf

Mangunsong, F. 2008. Psikologi dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Jilid 1. LPSP3 UI Depok.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s